A. Karakteristik Peserta didik
Sebagai manusia yang berpotensi, maka di dalam diri peserta didik ada suatu daya yang dapat tumbuh dan berkembang sepanjang usianya. Potensi peserta didik sebagai data yang tersedia, sedang pendidikan sebagai alat yang ampuh untuk mengembangkan daya tersebut. Peserta didik adalah sebagai komponen inti dalam kegiatan pembelajaran, maka mereka lah sebagai pokok persoalan dalam interaksi edukatif. Adapun karakteristik dari peserta didik yang perlu dipahami adalah:
1. Peserta didik adalah individu yang memiliki potensi fisik dan psikis yang khas sehingga ia merupakan insan yang uniik. Potensi-potensi khas yang dimilikinya ini perlu dikembangkan dan diaktualisasikan sehingga mampu mencapai taraf perkembangan yang optimal.
2. Peserta didik adalah individu yang sedang berkembang. Artinya, peserta didik tengah mengalami perubahan-perubahan dalam dirinyasecara wajar, baik yang ditunjukkan kepada diri sendiri maupu diarahkan pada penyesuaian dengan lingkungan.
3. Peserta didik adalah individu yang membutuhkan bimbingan dan perlakuan manusiawi. Sehingga individu yang sedang berkembang, maka proses pemberian bantuan dan bimbingan perlu mengacu pada tingkat perkembangannya.
4. Peserta didik adalah individu yang memiliki kemampuan untuk mandiri. Dalam perkembangannya, peserta didik memiliki kemampuan untuk berkembang kearah kedewasaan. Di samping itu, dalam diri peserta didik juga terdapat kecenderungan untuk melepaskan diri dari ketergantungan pada pihak lain. Karena itu, setahap demi setahap orang tua atau pendidik perlu memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mandiri dan bertanggung jawab sesuai dengan kepribadiannya sendiri.
Menurut Barnadib, dkk, peserta didik memiliki karakteristik tertentu, yakni:
Belum memiliki pribadi dewasa, sehingga masih menjadi tanggung jawab pendidik (guru).
Masih menyempurnakan aspek tertentu dari kedewasaannya, sehingga menjadi tanggung jawab pendidik (guru).
Memiliki sifat-sifat dasar manusia yang sedang berkembang secara terpadu, yaitu kebutuhan biologis, rohani, sosial, intelegensi, emosi, kemampuan berbicara, anggota tubuh untuk bekerja, latar belakang sosial, latar belakang biologis, serta perbedaan individual.
Garry mengkategorikan perbedaan individual dimaksud ke dalam bidang-bidang berikut, yakni:
Perbedaan fisik mencakup usia, tingkat dan berat badan, jenis kelamin, pendengaran, penglihatan dan kemampuan bertindak.
a. Perbedaan sosial termasuk status ekonomi, agama, hubungan keluarga dan suku.
b. Perbedaan kepribadian termasuk watak, motif, minat dan sikap.
c. Perbedaan intelegensi dan kemampuan dasar.
d. Perbedaan kecakapan dan kepandaian di sekolah.
B. Jenis-jenis dan Cara Belajar Kimia
Dalam proses belajar mengajar, dikenal dengan adanya bermacam-macam kegiatan yang memiliki corak yang berbeda antara satu dengan yang lainnya, baik dalam aspek materi, metode, maupun aspek tujuan dan perubahan tingkah laku yang diharapkan. Keanekaragaman jenis belajar muncul dalam dunia pendidikan sejalan dengan kebutuhan kehidupan manusia yang bermacam-macam. Jenis-jenis belajar dalam pembelajaran kimia, sebagai berikut:
1. Belajar abstrak
Belajar abstrak adalah belajar yang menggunakan cara-cara berfikir abstrak. Tujuannya adalah untuk memperoleh pemahaman dan pemecahan masalah-masalah tidak nyata. Dalam mempelajari hal-hal yang abstrak, termasuk belajar kimia diperlukan peranan akal yang kuat di samping penguasaan atas prinsip, konsep, dan generalisasi.
2. Belajar pemecahan masalah
Belajar pemecahan masalah, pada dasarnya adalah belajar menggunakan metode-metode ilmiah atau berfikir secara sistematis, logis, teratur, dan teliti. Tujuannya ialah untuk memperoleh kemampuan dan kecakapan kognitif untuk memecahkan masalah rasional, lugas, dan tuntas. Untuk itu, kemampuan peserta didik dalam menguasai konsep-konsep, prinsip-prinsip, dan generalisasi serta insight (tilikan akal) amat diperlukan. Untuk keperluan ini, guru (khususnya) yang megajar eksakta, seperti IPA dan khususnya kimia sangat dianjurkan menggunakan model dan strategi belajar yang berorientasi pada cara pemecahan masalah.
3. Belajar rasional
Belajar rasional ialah belajar dengan menggunakan kemampuan berpikir secara logis dan rasional (sesuai sengan akal sehat). Tujuannya ialah untuk memperoleh aneka ragam kecakapan menggunakan prinsip-prinsip dan konsep-konsep. Jenis belajar ini, sangat erat kaitannya dengan belajar pemecahan masalah. Dengan belajar rasional, peserta didik diharapkan memiliki kemampuan rational problem solving, yaitu kemampuan memecahkan masalah dengan menggunakan pertimbangan dan strategi akal sehat, logis, dan sistematis. Jenis belajar rasional masuk dalam konteks belajar kimia, karena peserta didik dituntut berpikir secara logis dan sesuai dengan akal sehat.
4. Belajar pengetahuan
Belajar pengetahuan (studi) ialah belajar dengan cara melakukan penyelidikan mendalam terhadap objek pengetahuan tertentu. Studi ini juga dapat diartikan sebagai sebuah program belajar terencana untuk menguasai materi pelajaran dengan melibatkan kegiatan investigasi dan eksperimen. Tujuan belajar pengetahuan ialah agar peserta didik memperoleh atau menambah informasi dan pemahaman terhadap pengetahuan tertentuyang biasanya lebih rumit dan memerlukan kiat khusus dalam mempelajarinya. Belajar kimia, juga perlu menggunakan jenis ini untuk membuktikan konsep tertentu dengan melakukan eksperimen dan praktikum.
Berikut adalah cara dan teknik belajar kimia, sehingga lebih mudah dipahami dan mampu melewati ujian kimia dengan baik.
* Pelajari sebelum masuk kelas
Teknik ini mendorong peserta didik untuk dapat mempelajari pelajaran sebelum masuk kelas, sehingga peserta didik dapat mengikuti dan memahami pelajaran dengan baik. Dengan begitu, peserta didik mampu memikirkan hal baru yang berhubungan dengan pelajaran tersebut, dan bahkan dapat mengajukan pertanyaan seandainya ada materi yang kurang jelas.
* Pahami, jangan hanya diingat
William James, mengatakan, “Int dari jenius adalah dapat mengetahui apa yang harus diabaikan.” Tidak perlu menelan semua materi pelajaran tersebut satu persatu, hanya perlu selektif pada apa yang kita pelajari. Ketika belajar, fokus pada pemahaman konsep lebih penting daripada menghafal secara detail. Memahami membuat materi lebih “menancap” atau berkesan, dibanding dengan menghafal.
* Gunakan catatan
Tidak cukup hanya memperhatikan dan melewatkan banyak hal. Hal yang penting perlu di catat, agar tidak terjadi kesalahan yang mungkin saja tidak disengaja. Materi kimia penting untuk dicatat, karena dengan mencatat semua akan terorganisir dan dapat lebih mudah dibuka kembali.
* Praktek harian
Hal lain yang tidak boleh dilewatkan, adalah praktek harian. Percuma jika mempelajari hal tentang kimia, namun tidak pernah mencoba (praktek). Hal itu akan membuat sia-sia dan tidak mendorong kemampuan berfikir dalam diri peserta didik. Teknik ini dapat mempersiapkan peserta didik dalam ujian dan menilai tingkat pemahaman peserta didik itu sendiri.
C. Hirarki Proses Belajar Kimia
Hirarki belajar menurut Gagne harus disusun dari atas ke bawah atau top down. Dimulai dengan menempatkan kemampuan, pengetahuan, ataupun keterampilan yang menjadi salah satu tujuan dalam proses pembelajaran dipuncak dari hirarki belajar. Yang kemudian, diikuti kemampuan, keterampilan, atau pengetahuan prasyarat yang harus dikuasai lebih dulu agar berhasil mempelajari keterampilan atau pengetahuan selanjutnya.
Hirarki dari Gagne ini, memungkinkan prasyarat yang berbeda untuk kemampuan yang berbeda pula. Sebagaimana contoh, pemecahan masalah membutuhkan aturan, prinsip, dan konsep-konsep terdefinisi sebagai prasyarat berikutnya. Dimana prasyarat selanjutnya, akan atau masih memerlukan kemampuan membedakan (discrimination), yang nantinya juga akan dijadikan sebagai prasyarat selanjutnya.
D. Kondisi Belajar Peserta Didik
Kondisi belajar adalah suatu keadaan yang dapat mempengaruhi proses dan hasil belajar peserta didik. Definisi lain tentang kondisi belajar adalah suatu keadaan yang mana terjadi aktifitas pengetahuan dan pengalaman melalui berbagai proses pengolahan mental.
Kondisi belajar juga dapat diartikan sebagai keadaan yang harus dialami peserta didik dalam melaksanakan kegiatan belajar. Gagne dalam bukunya “Condition of Learning” (1977) menyatakan bahwa terjadinya belajar pada manusia daoat disimpulkan bila terdapat perbedaan dalam penampilan atau kinerja manusia sebelum dan sesudah ia di tempatkan pada situasi belajar.
Gagne membagi kondisi belajar atas dua hal, yaitu:
* Kondisi internal (internal condition)
Kemampuan yang telah ada pada diri individu sebelum ia mempelajari sesuatu yang baru. Dimana, kondisi ini dihasilkan oleh seperangkat proses transformasi.
* Kondisi eksternal (external condition)
Kondisi ini merupakan kondisi perangsang di luar diri individu. Kondisi belajar yang diperlukan untuk belajar, berbeda-beda untuk tiap kasus. Jenis kemampuan belajar yang berbeda dan kondisi eksternal yang berbeda pula.
Persoalan Pembelajaran Kimia pada Peserta Didik
Persoalan pembelajaran kimia pada peserta didik, terletak pada kesulitan belajar. Kesulitan ini mencakup pengertian yang luas, diantaranya adalah:
1. Learning disorder
Learning disorder atau kekacauan belajar merupakan keadaan dimana proses belajar mengajar seseorang terganggu karena timbulnya respon yang bertentangan. Peserta didik yang mengalami kekacauan belajar, potensi dasarnya tidak dirugikan. Akan tetapi, proses belajarnya terhambat, sehingga hasil belajar yang dicapainya lebih rendah daripada potensi yang dimilikinya.
Contohnya, peserta didik yang terbiasa melakukan sesuatu hal dengan tergesa-gesa, akan sedikit mengalami kesulitan pada saat harus bekerja di laboratorium. Karena ketelitian dan kehati-hatian sangat diperlukan saat bekerja di laboratorium. Begitu juga saat mengerjakan atau memahami konsep dalam materi kimia. Materi kimia, yang sangat perlu kehatian-hatian adalah materi redoks, khususnya penyetaraan reaksi redoks. Dimana, apabila penyetaraan reaksi yang dilakukan tidak sesuai, maka akan mempengaruhi hasil akhir dari perhitungan pernyetaraan redoks itu sendiri.
Upaya yang perlu dilakukan untuk permasalahan yang pertama ini adalah dengan belajar berulang. Karena dengan belajar berulang dengan sedikit lebih santai dan lebih memahami maksud dari hal tersebut, maka akan terbiasa dan nyaman dengan apa yang sedang kita kerjakan. Kemampuan seseorang dalam menguasai hal yang sedang dikerjakannya, sangat ditentukan apakah orang tersebut nyaman atau tidak, merasa terbebani atau tidak, serta merasa berat atau tidak. Ketika kita sudah berulang kali mencoba atau melakukannya, kita akan merasa nyaman dengan apa yang kita lakukan. Yang awalnya terburu-buru akan lebih rileks dalam melakukan hal itu. Penyetaraan reaksi redoks perlu dipikir dan diulangi beberapa kali untuk memastikan suatu reaksi setara atau belum. Jika tidak hati-hati, maka akan ada kesalahan kecil yang mempengaruhi seluruhnya.
Menciptakan kegiatan belajar yang berulang, memerlukan kondisi belajar yang menyenangkan dan mampu membuat peserta didik merasa tertarik dengan apa yang dilakukannya. Jadi, upaya lain yang perlu dilakukan, adalah menciptakan kondisi belajar yang menyenangkan bagi peserta didik agar dapat mencapai hasil yang optimal. Hal inilah yang akan membantu membentuk peserta didik menjadi lebih aktif dan kreatif.
2. Under Achiever
Under achiever mengacu pada peserta didik yang sesungguhnya memiliki tingkat potensi intelektual yang tergolong di atas normal, tetapi menunjukkan tingkat kecerdasan yang tergolong rendah. Peserta didik yang di tes kemampuan penalaran formalnya dan hasilnya menunjukkan bahwa peserta didik tersebut berada pada level operasional formal, namun mengalami kesulitan pada saat mempelajari konsep-konsep yang bersifat abstrak.
Belajar abstrak adalah belajar yang menggunakan cara-cara berfikir abstrak. Dalam hal ini, peserta didik diajak untuk dapat berfikir mengenai hal-hal yang diluar nalar atau pemikirannya. Upaya dalam menangani kesulitan belajar jenis ini, adalah belajar sesuai dengan hirarki atau urutan materi kimia. Dimana, peserta didik dituntut untuk mampu mempelajari hal-hal dasar seperti halnya teori secara mendasar terlebih dahulu, baru ke hal yang lebih sulit lagi. Mempelajari materi kimia dari hal yang umum ke khusus, sesuai dengan hirarki yang ada. Peserta didik ini perlu diberikan penjelasan lebih lanjut, agar tidak mengalami kesulitan lebih lanjut karena menyimpulkan masalah nya sendiri tanpa mau bertanya kepada yang lebih bisa atau mampu.
3. Learning disabilities
Ketidakmampuan belajar mengacu pada gejala dimana siswa tidak mampu belajar atau menghindari belajar, sehingga hasil belajar berada di bawah potensi intelektualnya. Bisa jadi, peserta didik belum memiliki pribadi dewasa, sehingga masih menjadi tanggung jawab pendidik (guru). Masih menyempurnakan aspek tertentu dari kedewasaannya, sehingga menjadi tanggung jawab pendidik (guru). Memiliki sifat-sifat dasar manusia yang sedang berkembang secara terpadu, yaitu kebutuhan biologis, rohani, sosial, intelegensi, emosi, kemampuan berbicara, anggota tubuh untuk bekerja, latar belakang sosial, latar belakang biologis, serta perbedaan individual.
Upaya dalam menangani ketidakmampuan belajar adalah dengan mengajarkannya secara bertahap dan tidak terburu-buru. Menciptakan kondisi yang menyenangkan, dan mengajak untuk ikut aktif dalam proses belajar mengajar. Lebih memberikan perhatian, agar peserta didik tersebut tidak merasa tersisihkan. Memberikan perhatian lebih, maksudnya tidak diskriminatif dengan yang lain. Artinya memperhatikan yang lain, namun lebih mengajak peserta didik tersebut untuk dapat ikut menyesuaikan diri dengan peserta didik lain. Misalnya, dengan memberikan apresiasi dan kesempatan untuk mengutarakan jawabannya, serta tidak langsung menyalahkan apa yang diungkapkan oleh peserta didik (hanya mengkoreksi, bukan menyalahkan).